Mengenal 4 Metode Depresiasi: Pengertian, Rumus, dan Contohnya

Aset tetap seperti gedung, kendaraan, mesin, dan peralatan kantor merupakan investasi jangka panjang yang mendukung operasional perusahaan. Seiring berjalannya waktu, aset tersebut akan mengalami penurunan nilai akibat penggunaan, usia, maupun perkembangan teknologi. Penurunan nilai atau depresiasi ini dapat dihitung menggunakan beberapa metode. Ada 4 Metode yang dapat digunakan, selengkapnya simak penjelasannya di bawah ini. 

Faktor yang Menentukan Perhitungan Depresiasi

Sebelum menentukan besarnya beban depresiasi, perusahaan harus mengidentifikasi beberapa komponen utama yang menjadi dasar perhitungan. Ketiga komponen ini saling berkaitan dan berpengaruh langsung terhadap hasil penyusutan aset. 

Jika salah satu komponen ditentukan secara tidak tepat, nilai depresiasi yang dihasilkan juga dapat menjadi kurang akurat. Mengutip dari Binus, berikut komponen-komponen yang perlu diketahui sebelum melakukan perhitungan depresiasi. 

1. Harga Perolehan

Harga perolehan merupakan seluruh biaya yang dikeluarkan perusahaan hingga aset siap digunakan dalam kegiatan operasional. Komponen ini tidak hanya mencakup harga pembelian aset, tetapi juga berbagai biaya lain yang berkaitan langsung dengan proses memperoleh aset tersebut. 

Misalnya, biaya pengiriman, biaya instalasi, biaya pemasangan, biaya pengujian, hingga pajak yang tidak dapat dikreditkan. Seluruh biaya tersebut harus dijumlahkan untuk memperoleh nilai harga perolehan yang sebenarnya. Semakin akurat harga perolehan yang dicatat, semakin tepat pula hasil perhitungan depresiasi yang akan diperoleh.

2. Nilai Residu

Nilai residu adalah perkiraan nilai aset pada akhir masa manfaatnya, yaitu ketika aset sudah tidak lagi digunakan dalam operasional perusahaan dan akan dijual atau dilepas. Dengan kata lain, nilai residu merupakan estimasi jumlah yang masih dapat diperoleh perusahaan setelah dikurangi biaya pelepasan aset. 

Tidak semua aset memiliki nilai residu yang besar. Beberapa aset bahkan dapat memiliki nilai residu sebesar nol apabila diperkirakan sudah tidak memiliki nilai ekonomis setelah masa manfaatnya berakhir. Penentuan nilai residu yang realistis penting dilakukan agar beban depresiasi tidak terlalu besar maupun terlalu kecil.

3. Masa Manfaat

Masa manfaat merupakan perkiraan jangka waktu atau periode aset dapat digunakan untuk mendukung aktivitas operasional perusahaan. Penentuan masa manfaat biasanya mempertimbangkan beberapa faktor, seperti intensitas penggunaan aset, kondisi lingkungan kerja, kapasitas produksi, perkembangan teknologi, hingga pengalaman penggunaan aset sejenis. 

Sebagai contoh, kendaraan operasional yang digunakan setiap hari umumnya memiliki masa manfaat yang lebih pendek dibandingkan furniture kantor yang penggunaannya relatif stabil. Semakin tepat estimasi masa manfaat suatu aset, semakin akurat pula perhitungan depresiasi yang dihasilkan.

Metode Depresiasi

Metode depresiasi adalah cara yang digunakan untuk menghitung dan mengalokasikan biaya perolehan aset tetap menjadi beban selama masa manfaatnya. Tujuan utama depresiasi bukan untuk menunjukkan harga jual aset di pasar, melainkan mencerminkan penurunan manfaat ekonomis aset akibat penggunaan dari waktu ke waktu. Ada 4 metode yang bisa digunakan dalam menghitung depresiasi, berikut penjelasannya:

1. Metode Garis Lurus (Straight Line Method)

Metode garis lurus merupakan metode depresiasi yang paling banyak digunakan karena perhitungannya sederhana. Dengan menggunakan metode ini, beban penyusutan disebar secara merata selama masa manfaat aset.

Selain mudah, kelebihan lain dari metode ini adalah dapat mencerminkan beban depresiasi yang lebih stabil setiap periode dan cocok digunakan untuk menghitung aset yang memberikan manfaat yang relatif sama setiap tahun.

Rumus

Beban Depresiasi = (Harga Perolehan − Nilai Residu) ÷ Masa Manfaat

Contoh

Perusahaan membeli gedung kantor dengan data berikut.

  • Harga perolehan: Rp3000.000.000
  • Nilai residu: Rp0 (diasumsiukan 0 pada akhir masa manfaat)
  • Masa manfaat: 20 tahun

Perhitungan:

(Rp3000.000.000 − Rp0) ÷ 20

= Rp150.000.000 per tahun

2. Metode Saldo Menurun 

Metode saldo menurun adalah metode depresiasi yang menghasilkan beban penyusutan lebih besar pada awal masa manfaat aset, kemudian nilainya akan terus menurun pada tahun-tahun berikutnya. Berbeda dengan metode garis lurus yang membebankan nilai depresiasi dalam jumlah yang sama setiap periode, metode ini menghitung penyusutan berdasarkan nilai buku aset pada awal tahun. Akibatnya, semakin kecil nilai buku aset, semakin kecil pula beban depresiasi yang diakui.

Metode ini umumnya digunakan untuk aset yang mengalami penurunan manfaat ekonomi lebih cepat pada awal penggunaannya, seperti mesin produksi, kendaraan operasional, komputer, atau peralatan elektronik.

Rumus Metode Saldo Menurun

Tarif Depresiasi = (1 ÷ Masa Manfaat) × 100%

Beban Depresiasi = Nilai Buku Awal Tahun × Tarif Depresiasi

Contoh Perhitungan

Sebuah perusahaan membeli mesin produksi dengan harga Rp400.000.000 dan memperkirakan masa manfaatnya selama 5 tahun.

Langkah pertama adalah menghitung tarif depresiasi.

Tarif depresiasi = (1 ÷ 5) × 100% = 20%

Pada tahun pertama, beban depresiasi dihitung sebagai berikut.

Depresiasi Tahun Pertama = Rp400.000.000 × 20% = Rp80.000.000

Dengan demikian, nilai buku mesin pada akhir tahun pertama menjadi:

Rp400.000.000 − Rp80.000.000 = Rp320.000.000

Pada tahun kedua, perhitungan tidak lagi menggunakan harga perolehan, melainkan nilai buku pada awal tahun, yaitu Rp320.000.000.

Depresiasi Tahun Kedua = Rp320.000.000 × 20% = Rp64.000.000

Proses tersebut terus dilakukan hingga akhir masa manfaat aset. Oleh karena nilai buku aset semakin kecil setiap tahun, beban depresiasi yang dihasilkan juga akan terus menurun. Metode ini memberikan gambaran yang lebih realistis untuk aset yang manfaat ekonominya paling besar pada awal masa penggunaan.

3. Metode Unit Produksi (Units of Production Method)

Metode unit produksi menghitung depresiasi berdasarkan tingkat penggunaan aset, bukan berdasarkan waktu. Semakin banyak aset digunakan, semakin besar beban depresiasi yang dicatat.

Rumus

Beban Depresiasi per Unit = (Harga Perolehan − Nilai Residu) ÷ Total Estimasi Produksi

Depresiasi tahunan = Beban per Unit × Jumlah Produksi

Contoh

Mesin dibeli seharga Rp550.000.000.

  • Nilai residu: Rp50.000.000
  • Kapasitas produksi: 100.000 unit

Maka:

(Rp550.000.000 − Rp50.000.000) ÷ 100.000

= Rp5.000 per unit

Apabila mesin menghasilkan 12.000 unit dalam satu tahun, maka depresiasi tahun tersebut sebesar:

12.000 × Rp5.000

= Rp60.000.000

4. Metode Jumlah Angka Tahun 

Metode jumlah angka tahun merupakan salah satu metode depresiasi yang membebankan biaya penyusutan lebih besar pada tahun-tahun awal masa manfaat aset, kemudian nilainya akan semakin kecil pada periode berikutnya. Perhitungan ini didasarkan pada asumsi bahwa aset memberikan manfaat ekonomi yang lebih tinggi pada awal penggunaannya sehingga beban depresiasi yang diakui juga lebih besar. 

Berbeda dengan metode saldo menurun yang menggunakan nilai buku sebagai dasar perhitungan, metode jumlah angka tahun menggunakan pecahan yang diperoleh dari perbandingan sisa umur manfaat dengan jumlah angka tahun.

Rumus Metode Jumlah Angka Tahun

Sebelum menghitung depresiasi, langkah pertama adalah mencari jumlah angka tahun berdasarkan masa manfaat aset.

Sebagai contoh, apabila suatu aset memiliki masa manfaat 5 tahun, maka jumlah angka tahunnya dihitung sebagai berikut:

5 + 4 + 3 + 2 + 1 = 15

Selanjutnya, pecahan depresiasi untuk setiap tahun adalah:

  • Tahun ke-1 = 5/15
  • Tahun ke-2 = 4/15
  • Tahun ke-3 = 3/15
  • Tahun ke-4 = 2/15
  • Tahun ke-5 = 1/15

Rumus depresiasi yang digunakan adalah:

Depresiasi = (Harga Perolehan − Nilai Residu) × Pecahan Pengali

Contoh Perhitungan

Sebuah perusahaan membeli perangkat komputer dengan harga Rp50.000.000. Perusahaan memperkirakan komputer tersebut memiliki masa manfaat selama 5 tahun dengan nilai residu sebesar Rp5.000.000.

Langkah pertama adalah menghitung nilai yang dapat disusutkan.

Rp50.000.000 − Rp5.000.000 = Rp45.000.000

Kemudian hitung beban depresiasi setiap tahun menggunakan pecahan pengali.

TahunPecahan PengaliBeban Depresiasi
15/15Rp15.000.000
24/15Rp12.000.000
33/15Rp9.000.000
42/15Rp6.000.000
51/15Rp3.000.000

Dari contoh tersebut terlihat bahwa beban depresiasi paling besar dicatat pada tahun pertama, kemudian terus menurun hingga akhir masa manfaat aset. Metode ini umumnya digunakan untuk aset yang mengalami penurunan produktivitas secara bertahap, seperti kendaraan operasional, mesin produksi, atau peralatan teknologi yang manfaat ekonominya lebih besar pada awal masa penggunaannya.

Perbandingan 4 Metode Depresiasi

MetodeBeban DepresiasiCocok untuk
Garis LurusTetap setiap tahunGedung, furnitur, peralatan kantor
Saldo MenurunBesar di awal, kecil di akhirKomputer, kendaraan, elektronik
Unit ProduksiBerdasarkan penggunaanMesin produksi, alat berat
Jumlah Angka TahunMenurun setiap tahunMesin, kendaraan operasional

Bagaimana Memilih Metode Depresiasi yang Tepat?

Pemilihan metode depresiasi sebaiknya disesuaikan dengan karakteristik aset dan kebutuhan perusahaan. Apabila aset memberikan manfaat yang relatif sama setiap tahun, metode garis lurus menjadi pilihan yang paling sederhana. Sebaliknya, aset yang cepat mengalami penurunan produktivitas lebih sesuai menggunakan metode saldo menurun atau jumlah angka tahun. Untuk aset yang tingkat penggunaannya berubah-ubah, metode unit produksi dapat memberikan hasil yang lebih akurat karena beban depresiasi dihitung berdasarkan pemakaian aktual.

Metode depresiasi merupakan cara untuk mengalokasikan biaya perolehan aset tetap menjadi beban selama masa manfaatnya. Empat metode yang paling umum digunakan adalah metode garis lurus, saldo menurun, unit produksi, dan jumlah angka tahun. Masing-masing memiliki karakteristik, rumus, serta penerapan yang berbeda sesuai dengan pola penggunaan aset.

Memahami metode depresiasi membantu perusahaan menyusun laporan keuangan yang lebih akurat, menghitung nilai buku aset secara tepat, serta mendukung pengambilan keputusan terkait investasi dan pengelolaan aset. Oleh karena itu, pemilihan metode yang sesuai menjadi bagian penting dalam praktik akuntansi yang baik.

Upgrade Diri Bersama Upskillz

Merasa kurang percaya diri karena skill “pas-pasan”? Sudah waktunya kamu upgrade diri bersama Upskillz.id, upgrade skill karir jadi lebih menyenangkan dan mudah. Ada banyak kelas gratis juga, lho!

Upskillz 

Upgrade Your Skill

Tinggalkan Balasan