Setiap aset tetap yang digunakan dalam operasional perusahaan, seperti gedung, kendaraan, mesin, atau peralatan kantor, akan mengalami penurunan manfaat ekonomi seiring waktu. Penurunan tersebut perlu dicatat sebagai beban agar laporan keuangan mencerminkan kondisi perusahaan yang sebenarnya. Salah satu metode yang paling sering digunakan untuk menghitung penyusutan aset adalah metode depresiasi garis lurus.
Metode ini dikenal sederhana karena menghasilkan beban depresiasi yang sama setiap periode selama masa manfaat aset. Kesederhanaan tersebut membuat metode garis lurus banyak diterapkan oleh berbagai jenis perusahaan, mulai dari UMKM hingga perusahaan berskala besar.
Artikel ini membahas secara lengkap mengenai cara menghitung depresiasi metode garis lurus, mulai dari pengertian, rumus, komponen perhitungan, contoh kasus, jurnal akuntansi, hingga kelebihan dan kekurangannya sesuai praktik akuntansi yang berlaku. Simak penjelasannya di bawah ini.
Apa Itu Metode Depresiasi Garis Lurus?
Mengutip dari Corporate Finance, Metode garis lurus (Straight-Line Method) adalah metode depresiasi yang mengalokasikan biaya perolehan aset tetap secara merata selama masa manfaatnya. Dengan metode ini, nilai beban depresiasi yang dibebankan setiap periode akan selalu sama, selama tidak terjadi perubahan estimasi masa manfaat atau nilai residu.
Metode ini didasarkan pada asumsi bahwa aset memberikan manfaat ekonomi yang relatif konsisten sepanjang masa penggunaannya. Oleh karena itu, biaya penggunaan aset juga diakui dalam jumlah yang sama pada setiap periode akuntansi.
Sebagai ilustrasi, sebuah perusahaan membeli mesin produksi dengan masa manfaat 10 tahun. Jika menggunakan metode garis lurus, perusahaan akan mencatat beban depresiasi dengan jumlah yang sama setiap tahun hingga masa manfaat mesin tersebut berakhir.
Kapan Metode Depresiasi Garis Lurus Digunakan?
Metode garis lurus paling tepat digunakan untuk aset yang memberikan manfaat ekonomi secara stabil dari tahun ke tahun. Artinya, aset tidak mengalami penurunan produktivitas yang signifikan selama masa penggunaannya.
Sebaliknya, apabila suatu aset mengalami penurunan manfaat yang cukup besar pada awal penggunaannya, perusahaan dapat mempertimbangkan metode depresiasi lain, seperti metode saldo menurun atau metode jumlah angka tahun. Beberapa contoh aset yang umumnya menggunakan metode ini meliputi:
- Gedung dan bangunan kantor
- Furnitur dan perlengkapan kantor
- Kendaraan operasional
- Komputer dan perangkat administrasi
- Mesin dengan kapasitas produksi yang relatif stabil
- Peralatan kerja
Rumus Depresiasi Metode Garis Lurus
Sebelum menghitung depresiasi, terdapat tiga komponen utama yang harus ditentukan terlebih dahulu yaitu harga perolehan, nilai residu, dan masa manfaat. Untuk menghitung depresiasi menggunakan metode garis lurus menggunakan rumus berikut.
Beban Depresiasi = (Harga Perolehan − Nilai Residu) ÷ Masa Manfaat
Rumus tersebut menunjukkan bahwa hanya nilai aset yang dapat disusutkan (depreciable amount), yaitu harga perolehan dikurangi nilai residu, yang dialokasikan sebagai beban selama masa manfaat aset.
Cara Menghitung Depresiasi Metode Garis Lurus
Perhitungan dilakukan dengan membagi nilai aset yang dapat disusutkan secara merata selama masa manfaatnya. Agar hasil perhitungan akurat, terdapat beberapa langkah yang perlu dilakukan.
1. Hitung Harga Perolehan Aset
Langkah pertama adalah menentukan harga perolehan aset. Harga perolehan tidak hanya mencakup harga pembelian, tetapi juga seluruh biaya yang dikeluarkan hingga aset siap digunakan dalam operasional perusahaan, seperti biaya pengiriman, instalasi, dan pengujian.
Sebagai contoh, sebuah perusahaan membeli mesin dengan rincian sebagai berikut:
- Harga mesin: Rp250.000.000
- Biaya pengiriman: Rp5.000.000
- Biaya instalasi: Rp5.000.000
Maka harga perolehan mesin adalah:
Rp250.000.000 + Rp5.000.000 + Rp5.000.000 = Rp260.000.000
2. Tentukan Nilai Residu
Setelah mengetahui harga perolehan, langkah berikutnya adalah menentukan nilai residu. Nilai residu merupakan estimasi nilai aset ketika masa manfaatnya berakhir atau saat aset akan dijual. Dalam contoh ini, perusahaan memperkirakan mesin masih memiliki nilai jual sebesar Rp20.000.000 setelah digunakan selama masa manfaatnya.
3. Tentukan Masa Manfaat
Selanjutnya, tentukan masa manfaat aset. Masa manfaat adalah perkiraan lamanya aset dapat digunakan untuk mendukung kegiatan operasional perusahaan. Misalnya, mesin tersebut diperkirakan memiliki masa manfaat selama 8 tahun.
4. Hitung Beban Depresiasi
Setelah seluruh komponen diketahui, perhitungan dapat dilakukan menggunakan rumus metode garis lurus:
Beban Depresiasi = (Harga Perolehan − Nilai Residu) ÷ Masa Manfaat
Dengan menggunakan data di atas, perhitungannya adalah sebagai berikut:
(Rp260.000.000 − Rp20.000.000) ÷ 8 = Rp30.000.000 per tahun
Artinya, perusahaan akan mengakui beban depresiasi sebesar Rp30.000.000 setiap tahun selama delapan tahun. Nilai tersebut kemudian dicatat sebagai beban pada laporan laba rugi dan menambah akun akumulasi depresiasi pada neraca. Dengan menerapkan cara menghitung depresiasi metode garis lurus secara tepat, perusahaan dapat menyajikan nilai aset tetap yang lebih akurat serta menghasilkan laporan keuangan yang sesuai dengan prinsip akuntansi.
Contoh Perhitungan Depresiasi Metode Garis Lurus
PT Maju Sejahtera membeli kendaraan operasional dengan rincian sebagai berikut.
| Keterangan | Nilai |
| Harga Perolehan | Rp400.000.000 |
| Nilai Residu | Rp20.000.000 |
| Masa Manfaat | 10 tahun |
Perhitungan
Nilai yang dapat disusutkan
= Rp400.000.000 − Rp20.000.000
= Rp380.000.000
Beban depresiasi per tahun
= Rp380.000.000÷ 10
= Rp38.000.000
Dengan demikian, perusahaan akan mencatat beban depresiasi sebesar Rp38.000.000 setiap tahun selama sembilan tahun.
Contoh Jurnal Depresiasi
Pada akhir periode, perusahaan perlu mencatat beban depresiasi ke dalam jurnal umum.
| Tanggal | Akun | Debit | Kredit |
| 31 Desember | Beban Depresiasi Kendaraan | Rp38.000.000 | |
| Akumulasi Depresiasi Kendaraan | Rp38.000.000 |
Kelebihan Metode Garis Lurus
Metode garis lurus menjadi pilihan banyak perusahaan karena menawarkan sejumlah keunggulan. Berikut adalah kelebihan metode yang satu ini:
1. Mudah Dipahami
Metode garis lurus memiliki rumus yang sederhana sehingga mudah dipelajari, bahkan oleh staf finance pemula maupun pemilik usaha yang belum memiliki latar belakang akuntansi. Perhitungannya hanya memerlukan tiga komponen utama, yaitu harga perolehan, nilai residu, dan masa manfaat aset. Karena langkah-langkahnya tidak rumit, metode ini dapat mengurangi risiko kesalahan perhitungan serta mempercepat proses pencatatan depresiasi.
2. Konsisten Setiap Periode
Salah satu keunggulan utama metode garis lurus adalah menghasilkan beban depresiasi yang tetap pada setiap periode. Konsistensi ini membuat perusahaan lebih mudah membandingkan biaya operasional dan laba dari satu periode ke periode berikutnya. Selain itu, nilai penyusutan yang stabil juga membantu manajemen dalam menyusun anggaran, melakukan evaluasi kinerja, serta membuat proyeksi keuangan yang lebih akurat.
3. Mempermudah Penyusunan Laporan Keuangan
Karena nilai depresiasi yang diakui setiap periode selalu sama, proses pencatatan dalam jurnal umum menjadi lebih sederhana dan efisien. Tim finance tidak perlu melakukan perhitungan ulang yang kompleks setiap akhir periode, sehingga pekerjaan rekonsiliasi aset tetap dapat dilakukan dengan lebih cepat. Hal ini juga membantu menghasilkan laporan keuangan yang konsisten, rapi, dan lebih mudah dipahami oleh pihak manajemen maupun auditor.
4. Cocok untuk Berbagai Jenis Aset
Metode garis lurus sangat sesuai diterapkan pada aset tetap yang memberikan manfaat ekonomi secara relatif sama selama masa penggunaannya. Contohnya adalah gedung, furnitur, peralatan kantor, kendaraan operasional, hingga mesin yang digunakan dengan tingkat pemakaian yang stabil. Dengan karakteristik tersebut, metode garis lurus mampu mencerminkan penggunaan aset secara lebih realistis sekaligus menghasilkan nilai depresiasi yang konsisten sepanjang masa manfaat aset.
Kekurangan Metode Garis Lurus
Meskipun sederhana, metode garis lurus juga memiliki beberapa keterbatasan. Karena itu, perusahaan perlu memastikan bahwa pola manfaat aset memang sesuai sebelum memilih metode garis lurus. Berikut adalah beberapa kekurangan metode depresiasi garis lurus:
- Tidak mempertimbangkan tingkat penggunaan aset setiap periode.
- Kurang mencerminkan kondisi aset yang produktivitasnya menurun secara cepat.
- Tidak memperhitungkan kenaikan biaya perawatan seiring bertambahnya usia aset.
- Kurang tepat digunakan untuk aset yang manfaat ekonominya lebih besar pada awal masa penggunaan.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menghitung Depresiasi
Menghindari kesalahan tersebut akan membantu perusahaan menghasilkan laporan keuangan yang lebih akurat dan andal. Namun dalam praktiknya, beberapa kesalahan berikut masih sering ditemukan.
- Menghitung depresiasi hanya berdasarkan harga beli tanpa memasukkan biaya instalasi atau pengiriman.
- Menentukan masa manfaat tanpa mempertimbangkan kondisi operasional aset.
- Mengabaikan nilai residu ketika aset masih memiliki nilai jual.
- Tidak melakukan peninjauan kembali apabila terjadi perubahan estimasi masa manfaat atau nilai residu.
Metode depresiasi garis lurus mengalokasikan biaya perolehan aset secara merata selama masa manfaatnya sehingga menghasilkan beban depresiasi yang konsisten pada setiap periode. Selain memudahkan pengelolaan aset tetap, penerapan metode garis lurus juga membantu manajemen mengevaluasi nilai buku aset, merencanakan investasi baru, dan mengambil keputusan bisnis berdasarkan informasi keuangan yang lebih akurat.
Upgrade Diri Bersama Upskillz
Merasa kurang percaya diri karena skill “pas-pasan”? Sudah waktunya kamu upgrade diri bersama Upskillz.id, upgrade skill karir jadi lebih menyenangkan dan mudah. Ada banyak kelas gratis juga, lho!
Upskillz
Upgrade Your Skill
