Depresiasi merupakan proses akuntansi untuk mengalokasikan biaya perolehan aset tetap selama masa manfaatnya. Dalam menghitungnya, ada 4 metode yang dapat digunakan, dan salah satunya adalah metode saldo menurun.
Dalam praktik akuntansi, metode saldo menurun banyak diterapkan pada aset seperti mesin produksi, kendaraan operasional, komputer, hingga peralatan elektronik. Aset-aset tersebut umumnya mengalami penurunan produktivitas dan peningkatan biaya perawatan seiring bertambahnya usia. Oleh karena itu, beban depresiasi yang lebih besar pada awal masa manfaat dinilai lebih sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Lantas, bagaimana cara menghitungnya serta apa kelebihan dan kekurangan dari metode ini? Simak penjelasannya di bawah ini!
Apa Itu Metode Saldo Menurun?
Metode saldo menurun (Declining Balance Method) adalah metode depresiasi yang menghitung beban penyusutan berdasarkan nilai buku aset pada awal setiap periode. Karena nilai buku terus berkurang akibat penyusutan, beban depresiasi yang dihasilkan juga akan semakin kecil dari tahun ke tahun.
Berbeda dengan metode garis lurus yang menghasilkan nilai depresiasi tetap setiap periode, metode saldo menurun menggunakan tarif depresiasi yang dikalikan dengan nilai buku aset pada awal tahun. Akibatnya, tahun pertama akan menghasilkan beban depresiasi terbesar, sedangkan tahun-tahun berikutnya akan mengalami penurunan secara bertahap.
Mengutip dari Investopedia, metode ini umumnya diterapkan pada aset yang mengalami penurunan efisiensi atau produktivitas secara cepat. Selain itu, aset yang memiliki biaya perawatan semakin tinggi setiap tahun juga lebih cocok menggunakan metode ini. Beberapa contoh aset yang sering menggunakan metode ini antara lain:
- Mesin produksi
- Kendaraan operasional
- Komputer dan laptop
- Server dan perangkat jaringan
- Peralatan elektronik
- Mesin manufaktur
Cara Menghitung Depresiasi Saldo Menurun Langkah demi Langkah
Setelah memahami konsep dasar metode saldo menurun, langkah berikutnya adalah mempelajari cara menghitung depresiasinya. Berbeda dengan metode garis lurus yang menghasilkan beban penyusutan tetap setiap tahun, metode saldo menurun menghitung depresiasi berdasarkan nilai buku aset pada awal periode.
Akibatnya, nilai depresiasi akan semakin kecil dari tahun ke tahun karena nilai buku aset terus berkurang setelah dikurangi akumulasi penyusutan. Rumus dasar yang digunakan dalam metode ini adalah sebagai berikut:
Beban Depresiasi = Nilai Buku Awal Tahun × Tarif Depresiasi
Karena menggunakan nilai buku sebagai dasar perhitungan, perusahaan perlu menghitung nilai buku aset pada setiap akhir periode sebelum menentukan beban depresiasi pada periode berikutnya. Agar lebih mudah dipahami, berikut tahapan perhitungan menggunakan sebuah studi kasus:
1. Tentukan Harga Perolehan Aset
Langkah pertama adalah menghitung harga perolehan aset. Harga perolehan tidak hanya mencakup harga pembelian, tetapi juga seluruh biaya yang dikeluarkan hingga aset siap digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan.
Biaya tersebut dapat berupa biaya pengiriman, instalasi, pemasangan, maupun pengujian aset. Sebagai contoh, sebuah perusahaan membeli mesin produksi dengan rincian sebagai berikut.
- Harga mesin: Rp400.000.000
- Biaya pengiriman: Rp10.000.000
- Biaya instalasi: Rp10.000.000
Dengan demikian, harga perolehan mesin menjadi:
Rp400.000.000 + Rp10.000.000 + Rp10.000.000 = Rp420.000.000
Nilai inilah yang akan menjadi dasar perhitungan depresiasi pada tahun pertama.
2. Tentukan Masa Manfaat
Selanjutnya, tentukan masa manfaat aset. Masa manfaat merupakan perkiraan lamanya aset dapat digunakan untuk mendukung aktivitas operasional perusahaan. Penentuan masa manfaat biasanya mempertimbangkan jenis aset, intensitas penggunaan, kondisi operasional, hingga kebijakan perusahaan. Dalam contoh ini, mesin diperkirakan memiliki masa manfaat selama 5 tahun.
3. Hitung Tarif Depresiasi
Setelah mengetahui masa manfaat, langkah berikutnya adalah menentukan tarif depresiasi. Pada metode saldo menurun biasa, tarif dihitung menggunakan rumus berikut.
Tarif Depresiasi = (1 ÷ Masa Manfaat) × 100%
Karena masa manfaat mesin adalah lima tahun, maka tarif depresiasinya adalah:
(1 ÷ 5) × 100% = 20%
Tarif sebesar 20% tersebut akan digunakan sebagai dasar perhitungan penyusutan pada setiap tahun. Namun, yang berubah setiap tahun adalah nilai buku aset yang menjadi dasar pengali tarif tersebut.
4. Hitung Depresiasi Tahun Pertama
Pada tahun pertama, nilai buku awal masih sama dengan harga perolehan karena aset belum mengalami penyusutan. Perhitungannya adalah sebagai berikut:
Depresiasi Tahun Pertama = Rp420.000.000 × 20% = Rp84.000.000
Setelah beban depresiasi dicatat, nilai buku aset pada akhir tahun pertama menjadi:
Rp420.000.000 − Rp84.000.000 = Rp336.000.000
Nilai buku akhir tahun pertama inilah yang akan digunakan sebagai dasar perhitungan pada tahun berikutnya.
5. Hitung Depresiasi Tahun Kedua
Pada tahun kedua, perhitungan tidak lagi menggunakan harga perolehan, melainkan nilai buku awal tahun, yaitu Rp336.000.000. Perhitungannya menjadi:
Depresiasi Tahun Kedua = Rp336.000.000 × 20% = Rp67.200.000
Selanjutnya, nilai buku pada akhir tahun kedua dihitung sebagai berikut:
Rp336.000.000 − Rp67.200.000 = Rp268.800.000
Terlihat bahwa beban depresiasi tahun kedua lebih kecil dibandingkan tahun pertama. Hal ini terjadi karena dasar perhitungannya berupa nilai buku yang telah berkurang akibat penyusutan pada periode sebelumnya.
6. Lanjutkan Perhitungan Hingga Akhir Masa Manfaat
Proses perhitungan dilakukan dengan cara yang sama hingga masa manfaat aset berakhir. Setiap awal tahun, perusahaan menggunakan nilai buku terakhir sebagai dasar untuk menghitung depresiasi berikutnya. Dengan demikian, beban penyusutan akan terus menurun setiap periode. Berikut hasil perhitungan depresiasi selama lima tahun.
| Tahun | Nilai Buku Awal | Depresiasi (20%) | Nilai Buku Akhir |
| 1 | Rp420.000.000 | Rp84.000.000 | Rp336.000.000 |
| 2 | Rp336.000.000 | Rp67.200.000 | Rp268.800.000 |
| 3 | Rp268.800.000 | Rp53.760.000 | Rp215.040.000 |
| 4 | Rp215.040.000 | Rp43.008.000 | Rp172.032.000 |
| 5 | Rp172.032.000 | Rp34.406.400 | Rp137.625.600 |
Dari tabel tersebut terlihat bahwa nilai depresiasi semakin kecil setiap tahun karena nilai buku aset juga terus menurun. Karakteristik inilah yang menjadi pembeda utama antara metode saldo menurun dan metode garis lurus.
Dalam praktik akuntansi, perusahaan juga perlu memperhatikan nilai residu apabila aset diperkirakan masih memiliki nilai jual pada akhir masa manfaatnya. Nilai buku aset tidak boleh disusutkan hingga berada di bawah nilai residu yang telah ditetapkan. Oleh karena itu, pada periode terakhir sering kali diperlukan penyesuaian terhadap beban depresiasi agar nilai buku akhir aset sama dengan nilai residunya.
Kelebihan Metode Saldo Menurun
Metode saldo menurun menjadi salah satu metode depresiasi yang banyak digunakan oleh perusahaan karena mampu menggambarkan penurunan manfaat ekonomi aset secara lebih realistis. Metode ini membebankan depresiasi dalam jumlah yang lebih besar pada awal masa manfaat aset, kemudian nilainya terus menurun pada periode berikutnya.
Karakteristik tersebut memberikan sejumlah keuntungan, terutama bagi perusahaan yang memiliki aset dengan tingkat produktivitas tinggi pada awal penggunaannya. Selain itu, berikut ini adalah beberapa kelebihan metode saldo menurun dalam menghitung depresiasi aset:
1. Mencerminkan Manfaat Ekonomi Aset
Salah satu keunggulan utama metode saldo menurun adalah mampu mencerminkan pola manfaat ekonomi aset yang sebenarnya. Banyak jenis aset, seperti mesin produksi, kendaraan operasional, dan perangkat teknologi, memiliki kinerja terbaik ketika masih baru. Seiring bertambahnya usia, kemampuan aset tersebut biasanya mulai menurun. Dengan membebankan depresiasi lebih besar pada awal masa penggunaan, laporan keuangan dapat menggambarkan biaya penggunaan aset secara lebih proporsional dibandingkan manfaat yang dihasilkan.
2. Cocok untuk Aset yang Cepat Mengalami Penurunan Nilai
Metode ini sangat sesuai diterapkan pada aset yang mengalami penurunan nilai atau produktivitas dalam waktu relatif singkat. Contohnya adalah komputer, laptop, server, kendaraan operasional, serta mesin produksi yang digunakan secara intensif. Perkembangan teknologi yang cepat juga membuat aset jenis ini lebih cepat usang sehingga metode saldo menurun dapat memberikan nilai penyusutan yang lebih realistis dibandingkan metode garis lurus.
3. Membantu Perencanaan Penggantian Aset
Karena nilai buku aset berkurang lebih cepat pada tahun-tahun awal, perusahaan dapat lebih mudah mengevaluasi kapan aset perlu diperbaiki atau diganti. Informasi tersebut membantu manajemen menyusun anggaran investasi, merencanakan pembelian aset baru, serta menghindari gangguan operasional akibat penggunaan aset yang sudah tidak efisien.
4. Selaras dengan Kenaikan Biaya Perawatan
Semakin lama suatu aset digunakan, biaya perawatan dan perbaikannya umumnya akan meningkat. Di sisi lain, metode saldo menurun menghasilkan beban depresiasi yang semakin kecil setiap tahun. Kondisi ini membuat total biaya penggunaan aset, yaitu gabungan antara biaya depresiasi dan biaya perawatan, menjadi lebih seimbang dari tahun ke tahun. Dengan demikian, perusahaan dapat memperoleh gambaran biaya operasional yang lebih realistis selama masa manfaat aset.
Kekurangan Metode Saldo Menurun
Meskipun menawarkan berbagai keunggulan, metode saldo menurun juga memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dipertimbangkan sebelum diterapkan. Berikut adalah beberapa kekurangan dari metode ini:
1. Perhitungannya Lebih Kompleks
Dibandingkan metode garis lurus, metode saldo menurun memerlukan proses perhitungan yang lebih rumit. Perusahaan harus menghitung kembali nilai buku aset pada setiap akhir periode karena nilai tersebut menjadi dasar dalam menentukan beban depresiasi tahun berikutnya. Hal ini membuat proses perhitungan membutuhkan ketelitian yang lebih tinggi.
2. Beban Depresiasi Berubah Setiap Periode
Karena dasar perhitungan menggunakan nilai buku, jumlah depresiasi tidak akan sama setiap tahun. Perubahan nilai penyusutan ini membuat proses penyusunan anggaran dan analisis biaya menjadi sedikit lebih kompleks dibandingkan metode yang menghasilkan beban tetap.
3. Kurang Sesuai untuk Semua Jenis Aset
Metode saldo menurun kurang tepat digunakan untuk aset yang memberikan manfaat ekonomi secara relatif stabil selama masa penggunaannya, seperti gedung, furnitur, atau peralatan kantor. Untuk aset dengan karakteristik tersebut, metode garis lurus umumnya lebih mampu mencerminkan pola penggunaan aset.
4. Memerlukan Pengawasan Nilai Buku
Perusahaan perlu memantau nilai buku aset secara berkala agar perhitungan depresiasi tetap akurat. Selain itu, apabila aset memiliki nilai residu, perusahaan harus memastikan bahwa nilai buku tidak disusutkan hingga berada di bawah nilai residu tersebut. Pengawasan ini membutuhkan pencatatan aset tetap yang tertib dan konsisten.
Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menggunakan Metode Saldo Menurun
Kesalahan dalam menghitung depresiasi dapat menyebabkan nilai aset, beban operasional, hingga laba perusahaan menjadi tidak akurat. Oleh karena itu, proses perhitungan perlu dilakukan secara teliti dengan memperhatikan setiap komponen yang digunakan. Berikut beberapa kesalahan yang paling sering terjadi dalam penerapan metode saldo menurun.
1. Menggunakan Harga Perolehan Setiap Tahun
Kesalahan yang paling umum adalah tetap menggunakan harga perolehan sebagai dasar perhitungan pada setiap periode. Padahal, metode saldo menurun menggunakan nilai buku awal tahun, bukan harga perolehan. Akibatnya, nilai depresiasi yang dihitung menjadi terlalu besar dan tidak sesuai dengan konsep metode ini.
2. Salah Menentukan Tarif Depresiasi
Tarif depresiasi harus dihitung berdasarkan masa manfaat atau kebijakan perusahaan yang berlaku. Kesalahan dalam menentukan tarif akan memengaruhi seluruh perhitungan penyusutan selama masa manfaat aset sehingga nilai buku yang dihasilkan menjadi tidak tepat.
3. Mengabaikan Nilai Residu
Apabila perusahaan menetapkan nilai residu, nilai tersebut harus diperhatikan pada akhir masa manfaat aset. Nilai buku tidak boleh disusutkan hingga lebih rendah dari nilai residu. Mengabaikan komponen ini dapat menyebabkan penyajian aset tetap pada laporan keuangan menjadi tidak sesuai dengan standar akuntansi.
4. Tidak Memperbarui Nilai Buku Aset
Sebelum menghitung depresiasi pada periode berikutnya, perusahaan harus mengurangi harga perolehan dengan akumulasi depresiasi untuk memperoleh nilai buku terbaru. Apabila nilai buku tidak diperbarui, hasil perhitungan depresiasi akan menjadi keliru dan memengaruhi saldo aset tetap pada neraca.
Dengan memahami berbagai kesalahan tersebut, perusahaan dapat menerapkan metode saldo menurun secara lebih akurat. Pencatatan yang tepat tidak hanya menghasilkan laporan keuangan yang andal, tetapi juga membantu manajemen dalam mengevaluasi kondisi aset, merencanakan investasi baru, dan mengambil keputusan bisnis berdasarkan informasi keuangan yang lebih terpercaya.
Perbedaan Metode Saldo Menurun dan Metode Garis Lurus
| Aspek | Saldo Menurun | Garis Lurus |
| Beban depresiasi | Menurun setiap tahun | Tetap setiap tahun |
| Dasar perhitungan | Nilai buku awal tahun | Harga perolehan dikurangi nilai residu |
| Tingkat kesulitan | Lebih kompleks | Lebih sederhana |
| Cocok untuk | Aset yang manfaatnya besar di awal | Aset yang manfaatnya stabil |
Metode saldo menurun merupakan metode depresiasi yang menghitung penyusutan berdasarkan nilai buku aset pada awal setiap periode. Karena nilai buku terus berkurang, beban depresiasi yang dihasilkan juga semakin kecil dari tahun ke tahun. Pendekatan ini cocok diterapkan pada aset yang mengalami penurunan produktivitas lebih cepat, seperti mesin produksi, kendaraan operasional, dan peralatan teknologi.
Upgrade Diri Bersama Upskillz
Merasa kurang percaya diri karena skill “pas-pasan”? Sudah waktunya kamu upgrade diri bersama Upskillz.id, upgrade skill karir jadi lebih menyenangkan dan mudah. Ada banyak kelas gratis juga, lho!
Upskillz
Upgrade Your Skill
