Sama seperti aset tetap, aset tidak berwujud juga mengalami penurunan manfaat seiring berjalannya waktu. Penurunan tersebut bukan disebabkan oleh kerusakan fisik, melainkan karena berakhirnya masa penggunaan, perubahan teknologi, atau habisnya hak yang dimiliki perusahaan. Dalam akuntansi, penurunan manfaat tersebut dicatat melalui proses yang disebut amortisasi.
Istilah amortisasi sering disamakan dengan depresiasi karena keduanya sama-sama berkaitan dengan alokasi biaya aset. Padahal, kedua konsep tersebut memiliki objek pencatatan, metode, dan tujuan penerapan yang berbeda. Memahami perbedaan ini sangat penting agar perusahaan dapat menyusun laporan keuangan secara akurat dan sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Untuk memahami selengkapnya, simak penjelasan berikut.
Apa yang Dimaksud dengan Amortisasi?
Mengutip dari Investopedia, Amortisasi adalah proses mengalokasikan nilai perolehan aset tidak berwujud menjadi beban secara bertahap selama aset tersebut masih memberikan manfaat ekonomi kepada perusahaan. Dengan kata lain, biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh aset tidak langsung dicatat sebagai beban sekaligus, tetapi dibagi ke beberapa periode sesuai dengan estimasi masa manfaatnya.
Konsep ini diterapkan karena manfaat dari aset tidak berwujud umumnya tidak hanya dirasakan pada saat aset diperoleh, melainkan juga pada tahun-tahun berikutnya. Oleh sebab itu, biaya perolehannya perlu disesuaikan dengan periode ketika aset tersebut digunakan untuk menghasilkan pendapatan.
Sebagai contoh, perusahaan membeli lisensi perangkat lunak yang dapat digunakan selama lima tahun. Apabila seluruh biaya pembelian dibebankan pada tahun pertama, laporan laba rugi akan menunjukkan beban yang terlalu besar pada periode tersebut, sementara empat tahun berikutnya tidak lagi mencerminkan biaya penggunaan lisensi. Melalui amortisasi, biaya tersebut dibagi secara sistematis sehingga setiap periode menanggung beban sesuai manfaat yang diterima.
Pendekatan ini tidak hanya membuat laporan keuangan lebih wajar, tetapi juga membantu perusahaan menilai nilai tercatat aset tidak berwujud secara lebih akurat.
Jenis Aset yang Menggunakan Amortisasi
Amortisasi hanya diterapkan pada aset tidak berwujud yang memiliki umur manfaat terbatas. Artinya, perusahaan dapat memperkirakan berapa lama aset tersebut mampu memberikan manfaat ekonomi sebelum hak penggunaannya berakhir atau nilainya menurun. Beberapa contoh aset tidak berwujud yang bisa diamortisasi meliputi:
- Hak paten
- Hak cipta
- Lisensi usaha
- Lisensi perangkat lunak (software)
- Hak waralaba (franchise)
- Hak siar
- Izin operasional dengan masa berlaku tertentu
Sebaliknya, tidak semua aset tidak berwujud dapat diamortisasi. Salah satu contohnya adalah goodwill, yaitu selisih lebih antara harga perolehan suatu perusahaan dengan nilai wajar aset bersih yang diakuisisi. Berdasarkan standar akuntansi yang berlaku saat ini, goodwill tidak diamortisasi, melainkan diuji secara berkala untuk mengetahui apakah terjadi penurunan nilai (impairment).
Mengapa Amortisasi Perlu Dilakukan?
Amortisasi bukan sekadar memenuhi kewajiban pencatatan akuntansi. Proses ini memiliki peran penting dalam menghasilkan informasi keuangan yang lebih relevan dan dapat dipercaya. Berikut ini adalah beberapa manfaat penting amortisasi:
1. Menyajikan Nilai Aset yang Lebih Akurat
Amortisasi membantu mencatat penurunan nilai aset tidak berwujud secara bertahap, sehingga nilai aset yang disajikan dalam laporan posisi keuangan tetap mencerminkan manfaat ekonomi yang masih dimiliki.
2. Mengalokasikan Biaya Secara Proporsional
Biaya perolehan aset tidak dibebankan sekaligus pada saat pembelian, melainkan dialokasikan selama masa manfaatnya. Hal ini membuat laba perusahaan lebih mencerminkan kondisi operasional yang sebenarnya.
3. Membantu Penyusunan Laporan Keuangan dan Pengambilan Keputusan
Amortisasi menerapkan matching principle, yaitu mengakui biaya pada periode yang sama dengan pendapatan yang dihasilkan. Selain itu, informasi amortisasi juga dapat menjadi dasar dalam mengevaluasi perpanjangan lisensi, pembelian hak baru, atau investasi pada aset tidak berwujud lainnya.
Bagaimana Cara Menghitung Amortisasi?
Dalam praktiknya, amortisasi paling sering dihitung menggunakan metode garis lurus karena sederhana dan menghasilkan beban yang sama pada setiap periode. Rumus yang digunakan adalah:
Beban Amortisasi = (Harga Perolehan − Nilai Residu) ÷ Masa Manfaat
Namun, sebagian besar aset tidak berwujud tidak memiliki nilai residu yang signifikan. Atau dapat diasumsikan nilai residu adalah nol, yang mana ini adalah kondisi umum untuk aset tidak berwujud.
Sebagai ilustrasi, sebuah perusahaan membeli lisensi perangkat lunak senilai Rp150.000.000 dengan masa manfaat lima tahun.
Perhitungannya menjadi:
(Rp150.000.000 – Rp0) ÷ 5 = Rp30.000.000
Artinya, setiap akhir tahun perusahaan akan mengakui beban amortisasi sebesar Rp30.000.000 hingga masa manfaat lisensi berakhir.
Perbedaan Amortisasi dan Depresiasi
Sekilas, amortisasi dan depresiasi memiliki tujuan yang sama, yaitu mengalokasikan biaya aset selama masa manfaatnya. Namun, terdapat beberapa perbedaan penting yang perlu dipahami.
Perbedaan yang paling mendasar terletak pada jenis aset yang dicatat. Amortisasi digunakan untuk aset yang tidak memiliki bentuk fisik, sedangkan depresiasi diterapkan pada aset berwujud seperti gedung, mesin, kendaraan, dan peralatan.
Selain itu, penyebab penurunan nilai kedua aset juga berbeda. Depresiasi umumnya dipengaruhi oleh penggunaan, keausan, atau usia aset. Sebaliknya, amortisasi lebih berkaitan dengan berakhirnya hak penggunaan, masa kontrak, atau menurunnya manfaat ekonomi dari aset tidak berwujud.
Dari sisi metode, amortisasi dalam praktik umumnya menggunakan metode garis lurus karena manfaat aset tidak berwujud cenderung dikonsumsi secara merata. Sementara itu, depresiasi memiliki beberapa alternatif metode, seperti garis lurus, saldo menurun, jumlah angka tahun, dan unit produksi, yang dipilih sesuai karakteristik aset.
Kesalahan yang Masih Sering Terjadi
Masih banyak perusahaan yang menganggap seluruh aset tidak berwujud harus diamortisasi. Padahal, beberapa aset, seperti goodwill dengan umur manfaat tidak terbatas, justru tidak diamortisasi dan harus diuji menggunakan metode penurunan nilai.
Kesalahan lain adalah menentukan masa manfaat tanpa mempertimbangkan kondisi aktual. Masa manfaat yang terlalu panjang atau terlalu pendek akan memengaruhi besarnya beban amortisasi dan menyebabkan nilai aset yang disajikan dalam laporan keuangan menjadi kurang tepat.
Selain itu, sebagian perusahaan belum melakukan evaluasi terhadap masa manfaat aset ketika terjadi perubahan kontrak atau perkembangan teknologi. Padahal, perubahan tersebut dapat memengaruhi estimasi manfaat ekonomi dan perlu dipertimbangkan dalam pencatatan amortisasi pada periode berikutnya.
Walaupun memiliki tujuan yang serupa dengan depresiasi, amortisasi diterapkan pada jenis aset yang berbeda. Depresiasi digunakan untuk aset berwujud yang mengalami penurunan nilai akibat penggunaan atau usia, sedangkan amortisasi diterapkan pada aset tidak berwujud seperti lisensi, hak paten, hak cipta, dan perangkat lunak.
Upgrade Diri Bersama Upskillz
Merasa kurang percaya diri karena skill “pas-pasan”? Sudah waktunya kamu upgrade diri bersama Upskillz.id, upgrade skill karir jadi lebih menyenangkan dan mudah. Ada banyak kelas gratis juga, lho!
Upskillz
Upgrade Your Skill
